Back to Home

About Scoliosis

SpineCor, Solusi  Perawatan Skoliosis

Kehadiran SpineCor® Dynamic Corrective, merupakan sebuah penemuan baru yang menjadi sarana penyembuhan bagi penderita skoliosis. Penemuan baru ini berguna merawat kelainan tulang belakang, menstabilkan, mengoreksi, meringankan rasa sakit, memperbaiki bentuk postur tubuh, dan meminimalkan agar skoliosis tidak berkembang menjadi lebih buruk baik untuk anak dan dewasa dengan memberikan pemulihan postur tubuh dan membetulkan posisi tulang belakang.

More about Spinecor® Dynamic Corrective

Scoliosis

Skoliosis adalah gangguan pada tulang belakang berbentuk lengkungan menyamping pada tulang belakang yang awalnya tegak lurus. Tulang belakang yang normal membentuk huruf S secara natural apabila dilihat dari tubuh tampak samping dan tegak lurus apabila dilihat dari tubuh tampak belakang. Skoliosis akan terlihat seperti huruf “S” atau “C”, sedangkan tulang belakang yang normal terlihat seperti huruf “I”.
Ada banyak tipe skoliosis dan bermacam penyebab untuk kelainan tulang belakang ini, yaitu:

  1. Skoliosis Idiopatik
    Tipe skoliosis yang paling umum terjadi, mencakup 80% – 85% dari semua kasus skoliosis secara umum. Etiologi atau penyebab dari tipe skoliosis ini adalah tidak diketahui secara spesifik.Banyak teori sudah ditemukan, tetapi tidak ada satupun yang dapat mencakup secara keseluruhan. Walaupun pada kasus idiopatik skoliosis ditemukan erat hubungannya dengan genetika tubuh. Kasus ini paling sering terjadi pada anak-anak remaja dan berkembang sangat cepat pada masa proses pertumbuhan. Karena tipe scoliosis ini sering terjadi pada masa remaja maka sering disebut sebagai skoliosis remaja.
  2. Skoliosis Kongenital
    Penyakit kelainan tulang belakang bawaan sejak lahir. Terjadi karena pembentukan tulang belakang yang abnormal atau tulang rusuk asimetris atau terjadinya penggabungan tulang rusuk pada masa terbentuknya si bayi di perut Ibu.
  3. Neuromuskuler, Jaringan penghubung & Skoliosis Kelainan Kromosom
    Ini muncul pada pasien dengan spina bifida, cerebral palsy atau orang-orang dengan berbagai jenis kondisi paralitik. Hal ini terjadi saat tulang belakang melengkung menyamping karena melemahnya otot tulang belakang atau masalah neuromuskuler. Skoliosis seperti ini umum terjadi untuk individu yang tidak dapat berjalan karena kondisi neuromuskuler mereka (seperti muscular dystrophy atau cerebral palsy). Ini dapat juga disebut skoliosis myopathic. Contohnya seperti, otot lemah, cerebral palsy, distropi otot, spina bifida, paralisis, marfan sindrom, dan down sindrom.
  4. Skoliosis Degeneratif
    Ini dapat diakibatkan dari kondisi trauma, terlalu kurus, proses operasi tulang belakang, osteoporosis atau dan kondisi keausan dari tulang. Skoliosis juga dapat berkembang di kemudian hari dan menyatu sebagai persendian tulang belakang yang mengalami kemerosotan tulang dan membentuk lengkungan di belakang. Kondisi seperti ini terkadang disebut skoliosis dewasa. Studi juga menunjukkan bahwa rotasi dari tulang belakang pun dapat terjadi pada kasus skoliosis seperti ini.
  • Non Bedah
    Dokter akan menyarankan menggunakan brace untuk mencegah, menstabilkan, memperbaiki atau menunjang agar kurva skoliosis tidak lebih memburuk. Selain itu ada pilihan pengobatan non bedah bagi penderita skoliosis yaitu:
  1. Pilates :
    Pilates dikenal dan digunakan untuk membantu seseorang membangun kekuatan dan fleksibilitas.
  2. Fisioterapi :
    Fisioterapi, juga disebut sebagai terapi fisik, yang melibatkan evaluasi, diagnosa, dan pengobatan berbagai penyakit, gangguan, dan ketidakmampuan tubuh dengan menggunakan rehabilitasi, teknik electrophysical dan manual.
  3. Chiropractic :
    Chiropractor Anda akan melakukan pemeriksaan riwayat kesehatan, meninjau tanda dan gejala yang disampaikan, mengevaluasi cedera yang dialami sebelumnya, riwayat kesehatan keluarga Anda, dan kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan Anda. Pengecekan palpasi, ortopedi, dan tes neurologis akan dilakukan demikian juga rontgen untuk menentukan sejauh mana tingkat keparahan skoliosis, cedera bantalan tulang belakang atau gangguan tulang belakang lainnya.
  4. Soft Brace :
    SpineCor® Brace adalah yang pertama dan satu–satunya di dunia sebagai  brace yang dinamis dan lembut untuk penderita skoliosis idiopatik. Dengan kemampuan meminimalkan fungsi neuro-musculo-skeletal, pertumbuhan asimetris, mengurangi postural disorganisasi dan deformasi tulang belakang. SpineCor® telah terbukti memiliki rasio 3,9 kali lebih efektif dalam menstabilkan atau memperbaiki skoliosis dibandingkan dengan TLSO/Boston brace, 89% lebih efektif dalam uji klinis yang dilakukan selama 10 tahun terhadap 400 pasien.
  • Operasi
    Operasi mungkin akan disarankan untuk memperbaiki kurva atau menghentikan agar tidak lebih memburuk jika individu masih dalam pertumbuhan, atau jika kurva lebih dari 40° dan sangat penting untuk dilakukan apabila pasien menunjukan tanda-tanda dan gejala neurologis, pernapasan visceral, muskuloskeletal, penekanan pada jantung dan/atau tekanan pada alat pernapasan, dan/atau kondisi kurva yang memburuk. Operasi sering melibatkan fusi penggabungan dari dua atau lebih ruas tulang pada tulang belakang. Dokter juga akan menyisipkan logam batang atau perangkat lain seperti implan.
Banyak orang yang memiliki skoliosis tidak menyadari bahwa mereka menderita kondisi seperti ini. Dalam kebanyakan kasus, tidak terdapat gejala nyata/jelas. Jika skoliosis tidak diobati, maka akan berakibat:

  1. Bertambahnya kurva tulang belakang
  2. Sakit pada punggung / tulang belakang
  3. Penekanan pada organ–organ penting
  4. Rasa sakit yang berhubungan dengan bantalan atau artritik
  5. Sakit saat bernafas atau menelan
  6. Bentuk tubuh yang buruk karena postur bungkuk yang tak sedap dipandang
  7. Kemungkinan masalah pada saluran pernafasaan dan kardiovaskular / jantung
  8. Memburuknya kemampuan motorik dan keseimbangan.
  9. Keterbatasan mobilitas akibat nyeri dan sulit bergerak

Diagnosis Skoliosis

Ada beberapa cara untuk mendiagnosa skoliosis dan untuk menentukan apakah seseorang menderita skoliosis :

  • Adam’s Forward Bend Test


    Tes yang paling umum dilakukan untuk pemeriksaan awal. Pasien membungkuk ke depan dengan posisi lengan mengantung, dengan kedua kaki dan lutut lurus. Kurva struktur skoliosis lebih terlihat saat membungkuk. Pada pasien dengan scoliosis, dapat diamati tulang rusuk tidak seimbang, dengan satu sisi yang lebih tinggi dari yang lain.

  • X-Rays / Rontgen


    Diagnosis skoliosis dan penentuan jenis skoliosis lebih jelas dapat dipastikan melalui uji radiologi / X-ray untuk menentukan tingkat derajat skoliosis.