Kesadaran masyarakat akan kesehatan tulang belakang.

Business week

Seren, karyawati perusahaan adverstising, tiap hari duduk di depan komputer selama 6-8 jam. Di luar kesibukannya, apalagi saat dikejar deadline, dia tak sempat memikirkan hal-hal seperti kesehatan tulang belakangnya. Sampai suatu ketika Seren merasakan sakit luar biasa di punggung. Dokter mendiagnosis dirinya mengalami Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau yang biasa disebut dengan “saraf terjepit”. Salah satu penyebabnya, duduk dengan posisi tidak benar apalagi sampai berjam-jam. Untuk mengobati sakitnya itu, dia dianjurkan menjalani terapi. Pilihan Seren jatuh pada metode chiropratic.

Ditemukan pada 1895 oleh Daniel David Palmer, warga Kanada yang tinggal di Amerika Serikat (AS), chiropratic juga dikenal sebagai Complementary and Alternative Medicine (CAM) adalah ilmu kedokteran komplimen terhadap kedokteran umum yang menekankan pada kesehatan tulang belakang. Kata tersebut berasal dari Yunani, “chiros” dan “practos“, yang artinya seseorang berpraktik dengan tangan. Di negeri kita dikenal dengan chiropraksi, pengobatan tulang belakang tanpa obat dan operasi.

“Yang menarik dari ilmu chiropratic adalah filosofi mengenai innate intelligence. Tubuh manusia bisa menyembuhkan dirinya sendiri bila susunan saraf, otot, dan tulang dalam keadaan optimal,” jelas dr. Tinah Tan, chiroprator wanita pertama di Indonesia.

Metode chiropraksi awalnya dikenal oleh masyarakat Indonesia yang pergi berobat ke luar negeri. Pada 2001 beberapa praktisi chiropraksi asing berkunjung ke Tanah Air dan menggelar pelayanan sosial ke daerah – daerah. Dari situ mereka melihat metode ini ternyata cukup diminati masyarakat. Benar saja, masyarakat kini semakin sadar akan kesehatan tulang belakang dan menjadikannya sebagian bagian dari gaya hidup. Hal ini tampak dari kemunculan sejumlah klinik khusus chiropraksi di Jakarta.

Salah satunya Citylife Sehat, klinik milik dr. Tinah. Wanita yang mengenyam pendidikan chiropractic di Australia ini mendirikan kliniknya pada 2001 di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Ketika mengunjungi salah satu gerai Citylife yang terletak di Kelapa Gading, Clinic Manager Sese Novelia juga mengatakan masyarakat semakin sadar terhadap pentingnya kesehatan tulang belakang. “Pasien yang datang dari anak-anak sampai manula, ibu rumah tangga sampai pekerja kantoran.”

Dokter Tinah menjelaskan, saat tubuh mulai merasakan sakit di beberapa bagian seperti pinggang, lutut, tangan dan kaki, punggung, bahkan sakit kepala di sekitar tengkuk dan dahi itu artinya terjadi penurunan fungsi saraf atau sublukasi. Sendi tulang tidak bergerak dengan normal. Sublukasi disebabkan oleh beberapa hal seperti trauma, kecelakaan, serta posisi tidur, duduk, dan berdiri yang tidak benar.

Lalu, bagaimana metode chiropratic mengatasinya? Seorang dokter chiropraksi akan memulai dengan anamnesa: apa yang menjadi keluhan pasien, dilanjutkan dengan pemeriksaan, dan menegakkan diagnosis. “Pemeriksaan chiropraksi itulah yang membedakannya dengan metode penyembuhan lain” ujar chiropractor yang mendapatkan gelar FICC dari The International College of Chiropractors ini.

Dalam pemeriksaan itu, tulang belakang pasien diperiksa secara menyeluruh termasuk postur tubuh dan analisa gerak. Dilanjutkan dengan pemeriksaan pergerakan tubuh dari tulang belakang, leher, punggung, dan pinggang; serta dibantu dengan pemeriksaan ortopedi, neurologi, dan radiologi yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis.

Metode chiropraksi membantu memperbaiki fungsi tubuh secara mekanik atau “biomekanik”, yakni pengoreksian sendi tulang belakang yang mengalami subluksasi. Metode mekanik ini dalam memperbaiki pergerakan sendi dikenal dengan nama adjustment – koreksi yang bisa dilakukan secara manual atau dengan alat bantu seperti activator, impulse, dan drop table. Koreksi inilah yang membantu menormalkan fungsi tulang belakang dan menghindari kerusakan jaringan di kemudian hari. “Tentunya dalam menangani pasien ada sejumlah variasi berdasarkan faktor usia, keadaan tulang umumnya, dan kondisi sang pasien.”

 

Oleh: Rini Harumi Wanashita
Sumber: Bloomberg Businessweek Edisi 28 Maret – 03 April 2013