“Tubuh kembali tegak, kini ia bisa menjalani harinya dengan lebih happy.”

Mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang kuat.

Slogan yang sudah sangat populer sejak jaman dulu itu, maknanya benar benar mengena dalam kehidupan saya. Setelah mengeluh sakit punggung, putri saya, Lidya, berangsur sembuh dan posturnya tegak, tidak membongkok lagi. Ia pun jauh lebih bersemangat dan bahagia melewatkan hari-harinya.

Aktivitas terganggu dan menjadi pemalu
Badan Lidya , anak kedua saya (dua saudara lainnya laki laki), sejak anak anak, berkembang dengan sangat cepat. Dia juga anak yang sehat dan ceria. Mungkin mewarisi postur tubuh ayahnya, saat menginjak umur sepuluh tahun, tubuhnya terlihat lebih bongsor dibandingkan dengan teman teman seusianya, mencapai 55kg dengan tinggi badan 160 cm.Saya tidak tahu secara pasti kapan dan apa penyebabnya, saat menginjak umur 13 tahun (kelas 1 SMP) bongkok pada punggung bagian atasnya tampak makin nyata. Tampak sangat jelas jika Lidya mengenakan baju baju yang ketat.

Punggung bagian atasnya melengkung
Awalnya saya mengira sikap tersebut disengajanya agar posturnya tidak terlalu tinggi dibandingkan teman teman sebayanya. Saya baru terkejut saat minta Lidya membuka dadanya dan menegakkan badannya. Katanya, sakit. Sejak saat itu saya mulai kwatir dan terus mengawasi perkembangan punggung atas Lidya.

Kebetulan, sepupu Lidya (anak kakak saya) mengalami hal yang sama dan usia mereka juga tidak terlalu jauh berbeda. Sudah sejak setahun sebelumnya sepupu Lidya ini menjalani terapi pada dokter ahli tulang di sebuah rumah sakit besar, di kawasan Jakarta Pusat. Untuk meluruskan kembali tulang belakangnya, si sepupu ini dibuatkan ‘baju robot’,baju pas melekat ditubuh, terbuat dari bahan lycra, dilengkapi dengan kerangka plastik yang kaku sehingga dika dipakai badan dipaksa untuk tetap tegak. Pelan pelan saya sampaikan niat saya untuk membawa Lidya berkonsultasi pada dokter ahli tulang di rumah sakit tempat sepupumua nerobat. Tapi Lidya menolak, karena membayangkan nanti setiap hari harus mengunakan ‘baju robot’ yang sama dengan sepupunya. Saya pun tidak mau memaksanya.

Sementara yang saya lihat postur Lidya semakin menunduk. Dan yang menyedihkan,anak perempuan saya yang sedang menginjak remaja justru makin pendiam, menarik dari dari aktivitasnya dengan teman-temannya. Dia menjadi lebih banyak berdiam di rumah. Yang paling menkhawatirkan, setiap saya minta berusaha tegak, lidya justru menangis. Rupanya dia kini menjadi sangat sensitif. Karena memang belum punya solusi terapi, diam diam saya terus menabung sebagai persiapan memeriksakan dia ke dokter plus biaya pembuatan baju robot yang menurut kakak saya mencapai sekitar 7 juta rupiah.

Berkenalan dengan Dokter Chiropraksi
Tuhan rupanya menjawab doa doa saya, mempertemukan saya dengan dr Tinah Tan. Sehari hari saya bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah internasional di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur. Anak Dr Tinah adalah salah satu murid di sekolah tersebut. Saya mendapat info dari salah seorang rekan guru , bahwa Dr Tinah adalah ahli chiropraksi. Meskipun saat itu saya tidak paham apa itu chiropraksi, saya toh tetap menyampaikan problem putri saya pada Dr Tinah. Siapa tahu ini menjadi solusi yang lebih nyaman bagi anak saya dibandingkan pakai “baju robot”.

Akhirnya, saat libur sekolah, Lidya saya bawa berkonsultasi pada dr Tinah di kliniknya, di Kawasan Kelapa Gading. Dokter memberikan surat pengantar untuk foto (rongent) tulang belakang. Hasilnya memperlihatkan ruas tulang belakang atas (bagian sambungan leher dan toraks) yang menyebabkan tubuh Lydia bongkok. Menurut dokter, persendian ini sudah mogok, sulit bergerak lagi. Penyebabnya sulit dketahui; bisa jadi cedera pada masa kecil yang tidak terdeteksi, kasur tidurnya yang terlalu empuk, atau beban tas sekolah yang terlalu berat,atau bahkan posisi yang salah sewaktu nonton tv. Jika saya cocokkan dengan kebiasaan Lidya, memang jika menonton TV, dia lebih senang meringkuk di sofa yang empuk. Namun, dokter pun tidak bisa memastikannya.

Menurut penjelasan dokter, persendian yang malas bergerak itulah rupanya bisa berakibat jauh, membuat otot-otot di sekitarnya beradaptasi dengan mengerut sebagai aksi pertahanan tubuh secara otomatis. Karena sudah berlangsung bertahun tahun postur Lidya menjadi bongkok. Bukan itu saja, efekn bisa merembet ke organ-organ di dalamnya. Bahkan beberapa bulan sebelum kami berkonsultasi ke dokter, Lidya sudah mengeluhkan nyeri dada saat menarik nafas dalam. Begitu juga tangan kanannya sakit jika diangkat. Ia menjadi sering sakit kepala.

Tangan dokter seolah ada matanya
Dengan jari jari tangannya, dokter menelurusi ruas tulang belakang, lalu memberikan penjelasan panjang lebar, termasuk prediksinya untuk menyembuhkan Lidya .Ia pun memberikan gambaran proses terapi yang akan dijalani anak saya. Secara bertahap, dokter akan berusaha menggerakkan lagi ruas-ruas persendian tulang belakang. Perlu waktu untuk penyesuaian tubuh. Untuk itu, pasien memang harus datang berkala ke klinik untuk terapi. Dengan penjelasan yang sangat detail, begitu juga caranya yang cukup sabar dalam berkomunikasi dengan kami selaku orang awam, kami pun mantap menjalani terapi chiropraksi di klinik Dr Tinah.

Pada setiap kedatangan (tahap pertama 3 kali dalam seminggu) sebelum ditangani oleh Dr Tinah, Lidya dipijat dulu oleh seorang fisioterapis untuk dikendorkan otot otot sepanjang punggung dan lehernya, selain dipijat, terapi juga dibantu dengan alat ultra sound, gelombang khusus untuk mengendorkan jaringan otot yang lebih dalam. Setelah itu barulah melakukan koreksi pada ruas demi ruas sepanjang tulang belakang.

Agak mengagetkan bagi saya karena baru empat kali menjalani terapi sudah tampak kemajuan yang sangat nyata. bongkok yang sudah bertahun tahun dialami Lidya, jauh berkurang tanpa bantuan alat apapun, hanya dengan jari jari tangan dokter. Sebagai tambahan, dokter mengajarkan Lidya gerakan stretching otot yang harus dilakukan oleh Lidya.

Begitulah, baru lewat 2 minggu (6 kali terapi), saat Lidya mengenakan kaos yang pas di badan, tampak jelas bongkoknya sudah jauh berkurang. Begitu juga sakit yang dirasakan oleh Lidya juga banyak berkurang. Padahal pada awal terapi Lidya sempat menanggis. Hasil ini memompa semangat kami. Lidya pun semakin semangat berobat ke klinik.

Harus bergerak sepanjang Hidup
Setelah menjalani terapi selama 6 kali (dalam 2 minggu) postur anak saya pulih. Bahkan jika di hitung, biaya yang akhirnya saya habiskan tidak sampai menghabiskan tabungan yang saya siapkan untuk membeli “baju robot” puji syukur Tuhan …

Untuk membantu tubuh beradaptasi, dokter masih akan melakukan koreksi beberapa kali. Maka Lidya akan tetap datang ke klinik, dari seminggu sekali sampai sebulan sekali. Dalam tahap ini, justru Lidya berinisiatif datang terapi ke klinik, mengingat kemajuan yang dirasakannya. Saya juga kagum pada perubahan sikap Lidya yang menjadi rajin melakukan senam di rumah dan mengikuti latihan voli di sekolah. Sesuai anjuran Dr Tinah akan berusaha terus untuk bergerak dengan berolahraga. Ini sangat penting sebagai tahap awal pemeliharaan tulang sehat sampai tua. Belakangan putri saya sendiri minta giginya dirawat dengan kawat gigi. Pergaulan sosialnya benar benar sudah pulih.

Kami sekeluarga terkesima oleh penyembuhan cara chiropraksi ini, maka tanpa pikir panjang, saya pun ikut menjadi pasien dengan membawa setumpuk keluhan sakit tangan dan leher yang sudah saya simpan lebih dari satu tahun ini. Dokter Tinah mengatakan saya mengalami sindrom guru, demikian istilah dokter sambil bercanda. Penyebabnya melakukan gerakan berulang ulang dalam waktu lama. Misalnya menulis menyiapkan materi mengajar, duduk menunduk dan sebagainya. Kesalahan gerak yang saya anggap biasa ini ternyata juga bisa berefek pada kekakuan otot seputar tulang belakang sehingga membuatnya seret bergerak. Efek lebih jauh, muncullah berbagai keluhan kaku, sakit kepala sebelah (migren), ngilu di punggung dan leher.

Setelah tulang belakang difoto, selama 2 bulan saya rutin menjalani terapi dan koreksi tulang belakang. Keluhan saya benar benar hilang. Kakak saya Suzana yang juga berprofesi sebagai guru pun menjadi penasaran dan memeriksakan keluhan sakit lutut yang sudah diderita beberapa tahun belakangan. Selain keluhannya hilang (Setelah sebulan terapi), Kak Susana mendapat pemahaman baru mengenai pola gerak (dia hobi melakukan latihan di Gym-Red) yang selama ini ternyata kurang tepat karena melatih otot secara tidak merata. Artinya member beban hanya pada satu bagian otot. Ini yang dikoreksi oleh dr Tinah sehingga selanjutnya hobinya berlatih di Gym bisa semakin menyehatkan.

Pengalaman kami sekeluarga berobat secara chiropraksi telah membuka wawasan kami terhadap terapi yang sangat alamiah ini, artinya, tanpa obat dan hanya mengandalkans sentuhan tangan ahli dan berlatih sendiri. Maka walaupun keluhan kami sudah hilang, demi pemeliharaan tulang sehat, kami tetap datang ke klinik, dua sampai tiga bulan sekali, sekedar memeriksakan diri (screening) total kesehatan seleuruh badan. Kami menjadi sangat yakin bahwa kesehatan tulang belakang ini menjadi bagian dari investasi penting untuk kesehatan hari tua nanti.

Akan halnya kondisi Lidya yang kini sudah menginjakbangku SMA (usia 15), sungguh sangat melegakan. Mesti badannya berkembang dengan pesatnya (71 kg/175 cm) toh.. dia jalani hari harinya dengan tetap aktif dan ceria, selalu tegak menyongsong hari depannya.


Pendapat ahli: Dr Tinah Tan , B.Med B. App. Sc. Chiro. Sc.

“Banyak Disepelekan, Dianggap Sekadar Gangguan Estetika Semata”

Sikap tubuh membungkuk (hyperkyphosis), seperti yang dialami Lidya beberapa waktu lalu, menunjukan adanya kelainan dalam perkembangan spine atau tulang belakang. Kasus seperti ini banyak terjadi dalam masyarakat kita, termasuk mereka yang datang ke klinik kami. Sayang, kasus seperti ini biasanya dianggap sepele, hanya dilihat sebagai gangguan estetika semata, bahwa postur yang bongkok itu tidak sedap dipandang.
Permasalahannya tentu tidak sesederhana itu. Tulang belakang yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya mengakibatkan tubuh beradaptasi dengan bersikap membongkok. Yang terlihat oleh mata memang kulit, otot, dan tulang yang menjadi tidak simetris. Namun, kondisi ini akan berakibat lebih jauh pada perkembangan organ dan sistem di dalamnya, misalkan sistem saraf dan sirkulasi.

Gesekan gesekan kecil pada tulang akan merangsang munculnya pengapuran pada bagian tersebut. Kasus pengapuran tulang yang makin menyengsarakan masyarakat jaman sekarang (rata rata 8 dari 10 pasien yang datang ke klinik, usia di atas 40 tahun) bisa menjadi indikasi kurangnya kesadaran masyarakat menjaga kesehatan tulang , termasuk menuntaskan gangguan yang pernah terjadi.

Dalam kasus Lidya, gangguan tulang belakang tidak hanya membatasi gerak (membuatnya menjadi bongkok), namun juga telah mengurangi rasa percaya dirinya. Kerugian psikologis ini akan berdampak luas dalam kehidupan pasien, mengingat pasien sedang dalam masa pertumbuhan fisik dalam lingkungan social pergaulan masa remajanya. Beruntung orang tua Lydia sangat peduli dan cukup gigih mengupayakan kesehatan putrinya.
Chiropractor, mengoreksi dan mengedukasi.

Kesalahan postur sebagaimana dialami oleh Lydia sangat sering terjadi. Penyebabnya beragam, mulai dari trauma tulang belakang yang tidak terdeteksi secara seksama (misalnya karena hentakan saat naik kendaraan), cedera dari masa kecil, atau bisa juga karena pola aktivitas sehari hari yang salah, misalkan tas sekola yang telalu berat dan tidak merata, posisi meja belajar yang kurang tepat menopang tubuhnya yang cendrung bongsor, atau bisa juga sofa tempat nonton tv yang menengelamkan badannya, kebiasaan seperti ini akan menentukan sikap tubuh seseorang.

Dalam chiropraksi kami menyakini peran penting tulang belakang sebagai tiang utama pergerakan tubuh secara menyeluruh karena tulang belakang mejadi salah satu pusat sistem saraf. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kesehatan seseorang akan ditentukan oleh tulang belakangnya. Tulang belakang terbagi dalam tiga segmen yaitu cervical (terdiri dari 7 ruas tulang belakang) thorakal (terdiri dari 12 ruas), lumbal (terdiri dari 5 ruas), masing masing terdiri atas ruas ruas tulang dan setiap ruas dihubungkan oleh persendian. Pergerakan tubuh yang sehat hanya dimungkinkan jika pergerakan seluruh sendi optimal. Jika ada satu atau lebih sendi ruas tulang belakang yang mogok atau kurang lentur, dampaknya pergerakan akan terganggu, lebih jauh lagi, gangguan pada postur tubuh bahkan akan memunculkan gangguan kesehatan lainnya, misalnya sulit tidur, migren, gangguan pencernaan dan lain-lain.

Peran dokter chiropraksi adalah memeriksa secara seksama (mengunakan ketrampilan jari jari tangannya) pergerakan normal setiap persendian ruas tulang belakang yang sangat berkaitan dengan postur tubuh. Selanjutnya dengan memanfaatkan ketrampilannya, seorang ahli chiropraksi melakukan koreksi terhadap ruas tulang belakang agar bisa bergerak secara normal kembali tanpa melewati limit atau batas kemampuan tubuh setiap pasien (dengan mempertimbangan faktor usia, pengapuran, pengeroposan tulang). Dengan demikian cara kerja seorang ahli sangat spesifik. langsung melakukan manipulasi pada tulang, tanpa bantuan obat. Sesuai standar pengobatan cara ini, seorang ahli chiropraksi didampingi oleh praktisi fisioterapi yang membantu mengendurkan otot pasien sebelum menjalani koreksi.

Demikianlah, yang kami lakukan pada Lydia adalah mengoreksi ruas demi ruas yang tidak mau bergerak. Beruntung, komitmen pasien terhadap terapi sangat baik, sehingga tertib menjalani tahap demi tahap yang cukup memakan waktu ini. Ditambah pasien masih sangat muda, saat itu 13 tahun sehingga tulangnya masih sangat mudah dikoreksi. Sambil dikoreksi kami juga mengajarkan bentuk latihan untuk membantu proses pemulihan. Bukan hanya selama diterapi, bahkan latihan latihan itu memang mutlak harus dilakukan sampai kapanpun demi kesehatan tulang.

Hasil yang dicapai Lydia sangat mengembirakan selain posturnya tegap kembali, percaya dirinya bangkit dan motivasinya untuk terus berlatih olahraga dan menjaga sikap tumbuh dengan baik. Sayangnya pemahaman masyarakat terhadap terapi tanpa obat ini masih sangat kurang. Bisa jadi terapi ini masih dianggap mahal oleh beberapa kalangan. Padahal sekarang ini kami sudah merintis lembaga pendidikan dokter chiropraktik dan sudah mulai meluluskan ahli ahlinya yang selanjutnya siap terjuan ke masyarakat. Sejak tahun lalu kami bahkan sudah membuka klinik chiropraksi dengan harga khusus agar bisa dijangkau masyarakat luas.

Bagaimana, tak kenal maka tak sayang. Ini juga berlaku untuk terapi yang sebenarnya sangat penting untuk menjaga kesehatan tulang. Tulang yang sehat menjadi investasi penting bagi masa depan setiap orang. Seperti yang saya katakan pada Lydia, care terhadap tulangnya sejak remaja seperti sekarang ini akan menjadi jaminan kesehatan di hari tuanya besok. Jika ia tertib berlatih, pada usia 50 tahun dijamin Lydia bisa beraktivitas dan bergerak bebas kemanapun.

Oleh: Endang Ariani
Sumber: Nirmala Edisi Februari 2012