Tanpa disadari aktivitas harian dapat mengubah posisi tulang belakang.

Dr Sudomo S

Setiap hari pria bertubuh kurus itu hanya dapat menahan rasa sakit yang menerpa kepala dan punggungnya. Awalnya rasa sakit itu ia abaikan. Tapi ketika rasa sakit itu datang setiap hari, pria bernama Aji itupun menyerah. Dengan bermodalkan informasi dari sang istri bahwa kemungkinan ia menderita gangguan tulang belakang, pria 29 tahun itu memutuskan untuk mendatangi ahli terapi tulang belakang.

Di awal kedatangnnya, kepada terapis Aji menceritakan perihal pusing dan pegal yang sering mendera punggungnya. Guna mengetahui persis penyakit apa yang dialami pasiennya, sang ahli tulang belakang meminta Aji melakukan rontgen. Dari hasil itu diketahui ada 2 titik di punggung Aji yang membengkok. Menurut terapis, inilah biang keladi rasa sakit yang dialami Aji pada bagian kepala dan punggung.

Aji memang tak pernah mengalami trauma. Tapi ia menduga perubahan tulang punggung itu disebabkan pekerjaannya yang mengharuskan dia duduk berjam-jam di depan komputer. Faktor lain, kebiasaannya mengendarai motor selama dua jam sehari saat berangkat dan pulang kerja.

Tak mau mengambil risiko lebih besar, pria berkacamata itu pun memutuskan untuk menjalani chiropractic atau terapi tulang belakang. Terapi ini memfokuskan pada perbaikan tulang belakang beserta kelainannya, termasuk bagian saraf, otot, dan tulang. Pemulihan bentuk tulang belakang penting.

Sebab, seperti dijelaskan ahli tulang belakang dr. Sudomo Sastrowibowo, otak kita menerima informasi dari dan disebarkan ke seluruh tubuh itu berasal dari saraf yang berada di tulang belakang.

“Saraf utama berada di tulang belakang,” ujar dokter yang sehari-hari praktek di klinik Citylife Chiropractic, Kelapa Gading, Jakarta. Masih kata Sudomo, tulang belakang melindungi susunan saraf tulang belakang, sehingga jika pergerakan salah satu sendi tulang belakang berkurang, akan mengiritasi sistem saraf.

Iritasi inilah yang kemudian menyebabkan menurunnya suplai neuron ke jaringan dan organ, yang kemudian berimbas pada melemahnya fungsi jaringan dan organ. Gejala ini disebut vertebral subluxation complex atau sindrom subluksasi, yakni sendi tidak bergerak normal karena bergeser dari posisi awal sehingga menekan saraf. Jika dari pemeriksaan terjadi subluksasi, perlu dilakukan koreksi dengan cara chiropractic.

Aji menuturkan, saat mengikuti terapi tulang belakang, terapis memintanya tengkurap kemudian memijat pelan punggungnya. Berikutnya, dia diminta terlentang sambil meletakkan kedua tangan di depan dada. Pada posisi ini, terapis memutar badannya. Usai terapi pertama, Aji tidak merasakan sakit. Namun pada terapi kedua, ia merasakan hal berbeda. “Terasa ada tulang punggung yang bergeser,” ujar Aji sambil mengatakan, pengobatan yang dilakukannya itu disebut teknik adjustment, yakni membantu tulang dan sendi kembali dalam posisi normal.

Dahniar, salah satu karyawan swasta yang ditemui Prioritas Kamis pekan lalu, mengaku juga menjalani terapi tulang belakang. Terapi ini dijalani perempuan 30 tahun itu sejak 2009. Dia mengikuti terapi ini karena menderita migren, sakit pinggang, nyeri saat datang bulan, dan maag yang menahun. Sejak terapi kedua, perempuan berkacamata ini mengungkapkan, tidak pernah lagi menderita migren dan nyeri saat haid. “Rasanya fresh, keluhan penyakit hilang. Saya merasa amazing,” tutur Dahniar mengenai efek yang dirasakan setelah terapi. Rasa inilah yang membuat Dahniar menjalani terapi dua kali seminggu.

Menurut ahli tulang belakang yang praktek di Chiropractic Indonesia, Jakarta, Anthony K Dawson, terapi ini penting sebab seseorang tidak akan mengetahui dirinya mengalami subluksasi atau tidak. Subluksasi sendiri dapat terjadi dalam empat fase. Tapi tidak selalu menimbulkan rasa sakit. Karena itulah perlu diwaspadai dengan pemeriksaan rutin agar dampaknya tidak parah. Anthony mengingatkan, terapi ini aman untuk siapa saja. Termasuk bayi dan ibu hamil.

Oleh : Rizkita Sari
Sumber : Prioritasnews