“Anggota tubuh saya kembali berfungsi dengan baik dengan terapi chiropractic. Saya kembali bisa beraktivitas seperti biasa, berjalan dan duduk tanpa rasa sakit.”

Sakit pinggang yang saya rasakan sejak masih kanak-kanak ternyata bukan sakit pinggang biasa. Menurut dokter, penyakit tersebut ada hubungannya dengan jaringan ikat yang menurun. Kendati beberapa dokter menyarankan agar saya dioperasi, namun saya tetap bertahan.

Fisik yang tegap ternyata tidak bisa dijadikan patokan sehat tidaknya seseorang. Seperti yang saya alami, badan saya terlihat tegap (tinggi 172cm/berat 73 kg), tetapi saya selalu merasa sakit. Apabila saya mengeluh sakit kepada teman, saudara, bahkan orangtua saya, mereka selalu tidak percaya.

Berawal Di Pinggang

Semenjak duduk di kelas 3 SD setiap selesai olahraga atau berlatih karate, pinggang saya selalu terasa nyeri. Saya enggan mengungkapkannya karena takut dikatakan seperti orang yang sudah tua. Jadi, kendati sakit, saya diamkan saja.

Apabila sakitnya sudah tidak tertahankan lagi, saya baru berani mangatakannya kepada Ibu. Biasanya Ibu langsung mengantar saya ke dokter. Sayangnya ketika itu, dokter tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang saya alami. “Penyakit anak ibu hanya karena kurang gerak atau malas bergerak,” demikian katanya.

Menjelang usia 30 tahun, sakit di pinggang semakin terasa nyeri. Otot-otot di sekitarnya seperti keseleo dan dibarengi demam. Dokter mengatakan suhu badan yang naik biasanya adalah gejala tipus, tetapi tidak ada indikasinya. Demikianlah seterusnya sampai saya menikah pada tahun 1993 dan dikaruniai seorang anak.

Tidak Mampu Berdiri

Suatu hari di tahun 1996 ketika bangun tidur, saya merasa lemas. Saya tidak mampu berdiri. Berdiri sebentar saja, badan saya langsung ambruk. Duduk pun tidak nyaman, seluruh tubuh gemetar. Ada apa?

Saya mulai khawatir melihat kondisi badan saya seperti itu. Seriuskah penyakit saya?. Istri saya mengantar saya menemui dokter ahli saraf dan dokter ahli jantung. Mereka mengatakan penyakit saya osteoarthritis (OA).

Penyakit tersebut menyebabkan fungsi jaringan ikat di punggung saya menurun dan mengakibatkan bantalan di jajaran tulang belakang bergeser. Efeknya menurut dokter adalah pengapuran. Menurut mereka penyakit itu merupakan penyakit bawaan sejak lahir yang diturunkan dari garis keluarga. Tapi saran yang diajukan kedua ahli tersebut menakutkan saya. “Sebaiknya Bapak cepat dioperasi.” Jangankan operasi tulang belakang, memeriksakan gigi ke dokter saja saya takut. Saya bersikukuh tidak mau dioperasi, karena beberapa kali berkunjung ke rumah sakit, saya sering melihat pasien yang sudah menjalani operasi, kondisi tubuhnya tidak selalu membaik. Bahkan, ada yang lebih parah dibanding sebelum dioperasi. Ngeri sekali melihatnya.

Emosi Tidak Stabil

Sejak sakit, saya sulit tidur, tidak bisa konsentrasi. Di rumah maupun di kantor, emosi menjadi tidak stabil, pendengaran dan penglihatan terganggu, akibatnya saya mudah tersinggung dan gampang marah. Kepala sering pusing bahkan sampai vertigo (berputar). Tensi naik turun tidak menentu, pernah sampai 178/110. Saking sakitnya, pernah ada keinginan untuk membentur-benturkan kepala saya. Akibatnya saya beberapa kali tidak masuk kantor. Karena terlalu sering absen, saya diberi sanksi karena tidak disiplin. Karir saya ikut ambruk perlahan-lahan.

Minum Glukosamin

Dalam keadaan terpuruk, saya bersyukur bertemu dengan Dr S.J. Harianto Sp B-AFC (sekarang sudah almarhum, Red.). Ia justru tidak menyarankan saya dioperasi. Ahli bedah tulang itu menjelaskan bahwa menurut hasil MRI, sebaiknya saya tidak dioperasi saat itu. “Kerusakan bantalan, berjalan sesuai dengan usia. Pada usia tertentu, kerusakan itu akan berhenti dengan sendirinya,” demikian ujarnya. Ia kemudian membekali saya dengan glukosamin dan kondroitin. Ia juga menyarankan agar saya berenang dan mengikuti fisioterapi. Tetapi saya tidak bisa berenang.

Saya pernah menanyakan apakah penyakit saya ini disebabkan karena waktu kecil saya sering olahraga atau karena pernah jatuh? “Justru kalau Anda tidak olahraga, Anda bisa terkena penyakit itu di usia yang lebih muda lagi, dan kondisi tubuh Anda pasti akan lebih buruk. Olahraga membantu menguatkan otot Anda, supaya kuat menyangga tulang,” ujarnya.

Mendapat Referensi Dari Nirmala

Di tengah kegalauan saya, Lusy, istri saya menyodorkan saya beberapa eksemplar majalah Nirmala. Di dalamnya saya membaca rubrik “Pengalamanku”. Dari rubrik itu saya mendapat referensi untuk tidak begitu saja menerima anjuran operasi. Melalui rubrik itu pula saya mendapat pelajaran untuk tidak melawan penyakit. Dan memang benar, setelah saya mencoba menerima penyakit saya, saya merasa lebih tenang. Sebaliknya, apabila saya terus melawan penyakit itu, saya tambah sakit. Jadi, berdamai dengan penyakit jauh lebih baik, dan bukan tidak mungkin kesembuhan akan kita dapatkan.

Dari Nirmala pula saya mendapat alamat Dr Tinah Tan Chiropractor. Pertama bertemu Dr Tinah, pada bulan Mei 2005, saya diminta datang tiga hari sekali untuk diterapi.

Tidak Boleh Bergerak Secara Drastis

Penyakit saya memang aneh. Sedikit saja salah bergerak, saya langsung sakit. Misalnya, satu ketika di rumah saya ada panel listrik uang korslet. Secara refleksaya lari ke panel listrik untuk mematikannya, kemudian lari ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, saya ambruk. Dua-tiga hari tidak bisa melakukan apa-apa.

Dokter Tinah berpesan agar saya tidak melakukan gerakan drastis. Segala sesuatunya harus diatur oleh diri sendiri. Ia juga mengajarkan beberapa gerakan peregangan yang harus saya lakukan setiap hari.

Tidak Bisa Sembuh 100%

Alhamdulillah kondisi saya sekarang sudah membaik. Berjalan dan duduk tanpa sakit. Pendengaran dan penglihatan terang. Saya sudah bekerja di kantor seperti biasa. Sekarang saya sudah bersahabat dengan penyakit saya, jadi tidak tegang lagi. Jika di rumah ada persoalan, saya tidak marah-marah seperti dulu. Penyakit ini membuat saya menjadi penyabar dan lebih bisa mengerti keadaan tubuh sendiri.

Menurut Dr Tinah, saya tidak bisa sembuh 100%, tetapi besar kemungkinan dengan cara dimanipulasi, struktur tulang akan kembali kuat, bantalan yang lemah menjadi kokoh. Saran Dr Tinah, saya harus bisa menjaga berat badan, jika lebih dari 75 kg, saya bisa terkena penyakit itu lagi. Oleh karena itu pengaturan pola makan menjadi sangat penting, misalnya jika makan di resto saya pesan makanan yang tidak pakai garam dan MSG (itu yang membuat sakit kepala). Saya juga menghindari makanan berlemak. Di rumah, bersama istri dan anak, saya mencoba mengarahkan asupan makanan sesuai dengan anjuran dalam Food Combining dan memperbanyak sayur dan buah. Minum jus di pagi hari selau saya lakukan agar tubuh sehat. Saya ingin bisa menyetir mobil dan menikmati lagi naek motor Harley Davidson kesayangan saya.

– Iswara Dewa


Pendapat ahli: Dr Tinah Tan , B.Med B. App. Sc. Chiro. Sc.

Osteoartritis, Penuaan Sendi

Degenerasi atau penuaan pada tulang belakang bersifat komplek dan tidak terduga. Perubahan pada  struktur anatomi dapat menyebabkan perubahan pada fungsi tulang belakang. Degenerasi  ini dapat terjadi menyeluruh atau pada bagian tertentu tubuh,seperti bagian leher (cervical), punggung (thoracal), pinggang (lumbal-sacral) ataupun pada bagian tungkai seperti bahu dan lutut. Bila degenerasi terjadi di sendi tulang dan disertai rasa sakit maka dinamakan Osteoartritis (OA). Akhir-akhir ini osteoarthritis dikenal juga dengan degenerative joint disease (DJD).

Ada tiga faktor pemicu penuaan sendi, yaitu bertambahnya usia. Rata-rata pada mereka yang berusia 50 tahun proses degenerasi  sudah terjadi pada tubuhnya. Faktor kedua,pernah cedera,akibatnya ada sendi yang tidak bisa digerakkan membuat pergerakan terbatas sehingga proses degenerasi lebih cepat terjadi. Ketiga faktor sistematik. Seseorang yang didiagnosa rheumatoid arthritis positif sangat  disarankan untuk menjaga kesehatan sendinya, antara lain dengan menekan semaksimal mungkin terjadinya inflamasi, karena  inflamasi membuat sendi tidak mampu bergerak secara maksimal.

Tidak Pandang Usia

Semua orang akan mengalami penuaan sendi, tapi degenerasi akan terjadi lebih cepat jika terdapat salah satu dari tiga faktor di atas. Kasus yang dialami oleh Bapak Iswara Dewa adalah terjadinya pengapuran pada cervical dan lumbal, serta pengerasan pada  disc/bantalan yang dinamakan degenerative disc disease, dengan keluhan awal kekakuan sendi dan terbatasnya gerakan sendi leher. Timbul sakit, terutama di bagian kiri leher yang menjalar ke jari jari tangan.

Melalui pemeriksaaan chiropractic didapati hypertonicity (tekanan berlebih) pada otot otot cervical dan terbatasnya gerakan pada leher (cervical) terutama rotasi dan lateral flexion (penekukan ke satu sisi) pada pemeriksaan ruang gerak leher. Terdapat hubungan antara sakit yang lama (chronic pain) yang ditimbulkan oleh OA dengan munculnya depresi, demikian pula sebaliknya. Setelah pembetulan / manipulasi tulang belakang dan memberikan input yang baru bagi saraf tulang belakang maka rantai nyeri–depresi akan terputus. Tubuh akan mengalami perbaikan dan dapat mengontrol fungsinya semula. Ini yang dinamakan Innate Inteligence yang menjadi filosofi chiropractic. Filosofi ini yang menekankan bahwa tubuh mempunyai kapasitas untuk menyembuhkan, asal diberi lingkungan yang mendukung, yaitu bantuan dari chiropractor

Oleh: Emma Madjid
Sumber: Majalah Nirmala, Oktober 2007