Bahaya scoliosis pada anak sebaiknya diketahui sejak dini supaya bisa ditangani dan tidak memperburuk struktur tulang dan pertumbuhan anak. Bagaimana cara mendeteksinya? Adakah cara untuk menghadapinya?

kidsoncomp

Tahukah Anda, struktur tulang yang tidak normal akan berdampak negatif dalam jangka panjang. Salah satu dampaknya akan mengakibatkan terjadinya osteoarthritis (pengapuran tulang) lebih dini. Struktur tulang tidak normal ini berarti adanya struktur tulang belakang yang tidak lurus. Dalam kondisi paling parah berhuruf “S”, bahkan kemiringannya bisa 45 derajat. Inilah yang disebut scolisosis, dapat diderita siapa saja. Namun bagaimana bila itu terjadi pada anak Anda ?

Scoliosis pada anak, faktor penyebabnya bisa karena unsur genetik (bawaan), kecelakaan, karena suatu penyakit, tulang yang tidak bertumbuh, dan karena ketidaktahuan. Biasanya, faktor kebiasaan berpengaruh penting. Misalnya, cara membawa tas di satu pundak, sikap duduk ketika menulis di meja atau sambil tiduran, bahkan olah raga yang tidak terorganisir menjadi sebab scoliosis ini. Juga sikap duduk anak ketika main game di rumah. Sikap-sikap tersebut, bila tidak sempurna berakibat scoliosis.

Menurut Chiropractor Citylife, dr. Tinah Tan, scoliosis ini masih bisa diperbaiki. Pada scoliosis stadium awal, struktur tulang masih bisa dibelokkan, diperbaiki, dan digerakkan. Sedangkan pada yang stadium kronis sudah sulit digerakkan. “Habit harus dibreak, agar tidak fix dan tidak terjadi pengapuran dini,” tuturnya kepada Info Pluit Kapuk.

Dokter Tinah Tan menjelaskan, Scoliosis mudah diperiksa walau idealnya periksa ke dokter. Screening test istilahnya. Misalnya, para orang tua atau guru dapat melihat perbedaan tinggi kaki si anak yang tidak sama. Juga pundak yang tidak sama. Setelah bisa melihat perbedaan struktur tulang itu, berbeda dengan struktur yang normal, segeralah terapi.

Di sinilah peran seorang chiropractor, yakni untuk mendeteksi dan membetulkan semua hal yang menyebabkan iritasi saraf di tulang belakang. Sangat efektif. Tugas chiropractor adalah menjaga fungsionalitas sistem tubuh untuk kembali normal. Fokus utama dari seorang chiropractor menjaga susunan tulang belakang seseorang berada pada posisi yang semestinya. Dengan demikian anggota tubuh secara keseluruhan dapat bekerja tanpa adanya gangguan.

Citylife Chiropractic memperbaiki kelainan tulang tersebut tanpa obat-obatan. Lamanya terapi pun tergantung stadium scoliosis yang diderita. Terapinya bisa per kedatangan, bisa juga per paket. Pilihan ada di tangan para orang tua. “Scoliosis itu jangka waktu lama, setelah terapi, 6 bulan kemudian di foto rontgent lagi untuk melihat perkembangannya,” pungkasnya.

Pasien yang datang menjalani tahapan konsultasi dokter terlebih dahulu. Selain pasien wajib foto rontgent terlebih dahulu, di Citylife juga tersedia alat untuk mengetahui suhu saraf tulang belakang yang berkaitan dengan peradangan tulang, thermal scan. Kemudian, dokter chiropractor melakukan pemeriksaan yang seksama untuk mengetahui fungsi dan pergerakan sendi, fungsi otot dan saraf. Jika dari pemeriksaan menunjukkan adanya subluksasi (sendi yang bergerak tidak normal) maka perlu diadakan koreksi chiropractor.

“Koreksi (adjustment) membantu tulang dan sendi ke posisi normal, menormalkan gerakan dan menghilangkan iritasi yang kadang menyebabkan sakit. Teknik koreksi disesuaikan dengan keadaan tulang pasien. Hanya dengan tangan kosong. Bila diperlukan chiropractor menggunakan activator (alat untuk adjustment dengan tekanan ringan). Setelah dikoreksi dan sembuh, tulang kembali normal, maka ini saja tidak cukup. Kebiasaan-kebiasaan anak tersebut harus dihilangkan, seperti cara duduk ketika belajar, ketika main game, ketika membawa tas, dan kebiasaan lainnya. (Info Pluit Kapuk)

“Scoliosis, terutama pada anak, bila tidak segera diatasi dapat memperburuk pertumbuhan tubuh dan struktur tulangnya.”